Selasa, 21 Mei 2013

Berdo’a dan Berusaha

Setiap orang harus berusaha dan berdo’a  supaya tercapa apa yang diinginkannya. Mustahil keinginan itu tercapai tanpa dengan berusaha dan berdo’a. Orang yang berusaha tanpa berdo’a berarti orang itu sombong, namun sebaliknya berdo’a tanpa usaha berarti sama halnya dengan mengharapkan apa yang diinginkan itu turun dari langit. Dengan berusaha berarti kita bersungguh-sungguh dalam mencapai apa yang kita inginkan, sedangkan dengan berdoa itu berarti kita memohon ke pada Allah SWT supaya diberikan kemudahan dalam menggapainya, diberikan jalan kemudahan dalam mencarinya, karena dialah yang maha kuasa, maha mengetahui, dan maha segala-galanya.
Berdo’a bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, ada yang langsung mintak ke pada Allah SWT di waktu siang maupun malam, senang maupun sedih, dan lapang maupun sempit. Ada yang mintak atau berdo’a ke pada Allah dengan memintak ke pada orang tuanya untuk didoakan. Ada pula orang yang mintak kepada orang yang baik untuk didoakan supaya apa yang ia mintak terkabulkan oleh Allah SWT.
Berdo’a tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, situasi maupun kondisi, melainkan dimanasaja kita berada. Berdo’a tidak saja dilakukan sehabis sholat fardu maupun sholat sunah. Jadi berdo’a bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja.
Do’a bagi seorang mukmin bagaikan sebuah senjata yang bisa mengalahkan lawan, sebagai mana pedang bisa memotong lawan, atau seperti senjata nuklir yang bisa memusnahkan masa. Do’a diibaratkan senjata bukan berarti islam adalah agama yang keras, akan tetapi do’a bagi seorang mukmin itu sangat penting.
Di dalam Alqur’an, Allah SWT berfirman dalam surah Al-Anfal ayat 45 yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُواْ وَاذْكُرُواْ اللّهَ كَثِيراً لَّعَلَّكُمْ تُفْلَحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh) maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya (memperbanyak dzikir dan do’a) agar kamu beruntung”. (QS. Al Anfal : 45).
Ayat ini merupakan salah satu perintah dari Allah SWT untuk selalu berdo’a ke padanya, walaupun kita sedng menghadapi musuh. Tidak ada harapan yang berhak kita harapkan melainkan pertolongan dari Allah SWT. Tidak ada do’a yang bisa mengabulaknnya melainkan Allah SWT.
Berusaha juga sangat penting dalam mencapai cita-cita. Dengan adanya usaha berarti ada upaya untuk mencapai cita-cita. Terkadang cita-cita yang tinggi, yang tidak mungkin tercapai kalau menurut orang lain, tapi karena usaha yang sungguh-sungguh apa yang kita cita-citakan itu pasti tercapai.
Uasaha terkadang mendapatkan penghambat, yang membuat orang yang berusaha itu menjadi putus asa, atau menjadikannya semakin kuat. Disinilah seseorang diukur sampai sejauh mana tekatnya dalam menggapai cita-citanya.
Ada sebuah ungkapan yang berbunyi “jalan menuju kesuksesan itu tidak selamanya lurus, ada tikungan yang bernama kegagalan, ada bundaran yang bernama kebingungan, ada tanjakan yang bernama godaan, ada lampu merah yang bernama penderitaan, kita juga akan mengalami ban kempes yang bernama keputus asaan tetepi kalo kita memiliki ban serep yang bernama kesabaran, maka akan mendapat asuransi yang bernama iman dan pengemudi yang bernama kepercayaan, kemudian kita akan sampai ke tempat yang bernama kesuksesan”. Jadi yang namanya usaha itu harus dibarengi dengan tekat yang kuat, semangat yang kokoh supaya tidak mudah diombang ambing oleh godaan-godaan.
Allah SWT berfirman dalam sura Ar-Ra’d ayat 11 yang berbunyi:
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ (١١)
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[1]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[2] yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Q.S. Ar-Ra’d:11)
Ayat diatas merupakan salah satu ayat mengenai perintah untuk selalu berusaha, bukan berpangku tangan. Nasib itu ditentukan oleh diri sendiri bukan orang lain, karena manusia itu bukan lah seperti sebuah boneka. Melainkan seorang hamba Allah yang diberikan kewenangan dalam menentukan nasibnya.
Allah telah memberikan ke pada manusia akal untuk berfikir sehingga bisa menentukan mana yang baik maupun yang buruk, mana pekerjaan yang layak untuk dikerjakan dan mana pekerjaan yang harus kita tinggalkan. akal merupakan salah satu pemberian Allah kepada manusia sekaligus sebagai pembeda antara makhluk-makhluk yang lain.
Perintah Untuk Selalu Berdo’a
Didalam ajaran Islam dianjurkan kepada semua pemeluknya supaya senantiasa memohon kepada Allah SWT, karena Dialah yang maha penyantun lagi maha kuasa atas segala sesuatu. Sebagaiman firmannya dalam surah Al-Baqarah ayat 186 yang berbunyi:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (١٨٦)
            Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.(Q.S. Al-Baqarah[2]: 186)
Sebagai seorang mukin yang baik, yang senantiasa berada dalam syariat-syariat Islam, adalah mereka yang senantiasa memohon dan berdo’a kepada Allah, bukan selainnya. Karena orang yang memintak kepada selainya maka orang tersebut disebut musyrik (orang yang menyekutukan Allah).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar