Berdo’a bisa
dilakukan dengan berbagai macam cara, ada yang langsung mintak ke pada
Allah SWT di waktu siang maupun malam, senang maupun sedih, dan lapang
maupun sempit. Ada yang mintak atau berdo’a ke pada Allah dengan
memintak ke pada orang tuanya untuk didoakan. Ada pula orang yang mintak
kepada orang yang baik untuk didoakan supaya apa yang ia mintak
terkabulkan oleh Allah SWT.
Berdo’a
tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, situasi maupun kondisi, melainkan
dimanasaja kita berada. Berdo’a tidak saja dilakukan sehabis sholat
fardu maupun sholat sunah. Jadi berdo’a bisa dilakukan dimana saja dan
kapan saja.
Do’a bagi
seorang mukmin bagaikan sebuah senjata yang bisa mengalahkan lawan,
sebagai mana pedang bisa memotong lawan, atau seperti senjata nuklir
yang bisa memusnahkan masa. Do’a diibaratkan senjata bukan berarti islam
adalah agama yang keras, akan tetapi do’a bagi seorang mukmin itu
sangat penting.
Di dalam Alqur’an, Allah SWT berfirman dalam surah Al-Anfal ayat 45 yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُواْ وَاذْكُرُواْ اللّهَ كَثِيراً لَّعَلَّكُمْ تُفْلَحُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh) maka
berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya
(memperbanyak dzikir dan do’a) agar kamu beruntung”. (QS. Al Anfal : 45).
Ayat ini
merupakan salah satu perintah dari Allah SWT untuk selalu berdo’a ke
padanya, walaupun kita sedng menghadapi musuh. Tidak ada harapan yang
berhak kita harapkan melainkan pertolongan dari Allah SWT. Tidak ada
do’a yang bisa mengabulaknnya melainkan Allah SWT.
Berusaha
juga sangat penting dalam mencapai cita-cita. Dengan adanya usaha
berarti ada upaya untuk mencapai cita-cita. Terkadang cita-cita yang
tinggi, yang tidak mungkin tercapai kalau menurut orang lain, tapi
karena usaha yang sungguh-sungguh apa yang kita cita-citakan itu pasti
tercapai.
Uasaha
terkadang mendapatkan penghambat, yang membuat orang yang berusaha itu
menjadi putus asa, atau menjadikannya semakin kuat. Disinilah seseorang
diukur sampai sejauh mana tekatnya dalam menggapai cita-citanya.
Ada sebuah
ungkapan yang berbunyi “jalan menuju kesuksesan itu tidak selamanya
lurus, ada tikungan yang bernama kegagalan, ada bundaran yang bernama
kebingungan, ada tanjakan yang bernama godaan, ada lampu merah yang
bernama penderitaan, kita juga akan mengalami ban kempes yang bernama
keputus asaan tetepi kalo kita memiliki ban serep yang bernama
kesabaran, maka akan mendapat asuransi yang bernama iman dan pengemudi
yang bernama kepercayaan, kemudian kita akan sampai ke tempat yang
bernama kesuksesan”. Jadi yang namanya usaha itu harus dibarengi dengan
tekat yang kuat, semangat yang kokoh supaya tidak mudah diombang ambing
oleh godaan-godaan.
Allah SWT berfirman dalam sura Ar-Ra’d ayat 11 yang berbunyi:
لَهُ
مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ
أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى
يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا
فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ (١١)
Bagi
manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di
muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[1]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[2]
yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki
keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan
sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Q.S. Ar-Ra’d:11)
Ayat diatas
merupakan salah satu ayat mengenai perintah untuk selalu berusaha, bukan
berpangku tangan. Nasib itu ditentukan oleh diri sendiri bukan orang
lain, karena manusia itu bukan lah seperti sebuah boneka. Melainkan
seorang hamba Allah yang diberikan kewenangan dalam menentukan nasibnya.
Allah telah
memberikan ke pada manusia akal untuk berfikir sehingga bisa menentukan
mana yang baik maupun yang buruk, mana pekerjaan yang layak untuk
dikerjakan dan mana pekerjaan yang harus kita tinggalkan. akal merupakan
salah satu pemberian Allah kepada manusia sekaligus sebagai pembeda
antara makhluk-makhluk yang lain.
Perintah Untuk Selalu Berdo’a
Didalam
ajaran Islam dianjurkan kepada semua pemeluknya supaya senantiasa
memohon kepada Allah SWT, karena Dialah yang maha penyantun lagi maha
kuasa atas segala sesuatu. Sebagaiman firmannya dalam surah Al-Baqarah
ayat 186 yang berbunyi:
وَإِذَا
سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ
إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ
يَرْشُدُونَ (١٨٦)
Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah),
bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi
(segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka
selalu berada dalam kebenaran.(Q.S. Al-Baqarah[2]: 186)
Sebagai seorang mukin yang baik, yang
senantiasa berada dalam syariat-syariat Islam, adalah mereka yang
senantiasa memohon dan berdo’a kepada Allah, bukan selainnya. Karena
orang yang memintak kepada selainya maka orang tersebut disebut musyrik
(orang yang menyekutukan Allah).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar